SEJARAH DUNIA MODERN (Bagian III)

III. Penemuan Dunia Baru

1. Dalam buku catatannya, Vasco De Gama menulis: “Minggu berganti minggu, bulan bertukar bulan, hanya air, air, air…

2. 4 November, 1497. Setelah empat bulan berlayar, barulah nampak daratan. Sekarang kapal mereka sedang merapat ke sebuah tanjung di selatan Benua Afrika. Di sana, mereka mendapat perbekalan air dan kalung gading yang sungguh cantik sebagai penukar bagi barang-barang yang mereka bawa seperti topi dan lonceng. Penduduk di daerah ini hidup dengan berburu binatang. Mereka tinggal bersuku-suku dalam kelompok-kelompok kecil dan senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Setiap orang memikul beban kerja yang sama dan segala makanan yang diperoleh dibagi sama rata. Tidak ada perbedaan ‘kelas’ dalam mayarakat mereka.

3. Ketika mereka berlayar pergi, angin tenggara bertiup kencang, menyulitkan pelayaran mereka. Pada tanggal 22 November, 1497, mereka berhasil mengitari Tanjung Harapan.

4. Pada hari natal 1497, mereka berlabuh untuk kedua kalinya. 10 Januari, 1498. Orang-orang di negeri yang kami datangi mempunyai budi pekerti yang tinggi. Mereka menamakan tempat itu ”Negeri orang-orang baik”. Orang-orang baik itu hidup sebagai petani. Pada masa sebelumnya, mereka hidup sebagai pemburu, tapi saat hasil buruan mereka merosot, mereka beralih menjadi petani dan memelihara ternak. Sekarang, makanan sudah tidak menjadi masalah lagi bagi mereka. Ketua kampung tinggal dalam rumah besar. Ternaknya melebihi ternak orang lain, dan pekerjaan beternak dilakukan oleh orang-orang dari kampung lain. Perbedaan kelas mulai muncul dalam masyarakat mereka.

5. 25 Januari, 1498. Mereka menyaksikan suatu pemandangan yang ganjil. Dua orang pedagang menaiki kapal mereka. Yang satu mengenakan sorban sutera, dan yang lainnya mengenakan topi beludru. Mereka telah mengunjungi beberapa pelabuhan yang mewah, yang namanya tak pernah mereka dengar sebelumnya—seperti Kilwa dan Quelimane. Terdapat rumah-rumah yang terbuat dari batu, dan pelabuhan sesak dengan kapal. Di situ mereka bertemu dengan orang yang mengenal benar Lautan India. Dalam hal pelayaran, mereka lebih pandai. Pelabuhan tersebut sama dengan pelabuhan-pelabuhan di Eropa. Perbedaan di antara manusia dapat dengan jelas dilihat di situ—yakni, perbedaan kelas sangat ketara: di atas sekali, terdapat Raja dan para kerabatnya; terdapat juga pedagang, tukang dan petani—yang datang ke pelabuhan membawa hasil tanaman mereka; abdi hamba juga ada di situ—mereka adalah orang-orang suruhan. Abdi hamba bisa menebus diri mereka (agar bebas); sedangkan raja hidup dalam kemewahan—yang diperoleh dari cukai, pajak atau upeti yang dikenakan pada rakyat jelata.

6. Para pedagang merasa lebih betah tinggal di sana ketimbang di Eropa. Perhubungan mereka sangat luas—dari Cina dan India (di sebelah Timur) hingga berhubungan dengan para pedagang di Benin, Mali, Kongo, Mozaambique (di sebelah Barat). Jadi, inilah rute perjalanan dagangnya: Venesia, Benin, Kongo, Mozambique, pelabuhan Quelimane, Pelabuhan Kilwa, India dan Cina. Para pedagang berdagang di seluruh Lautan Hindi. Mereka berhubungan satu dengan yang lainnya, apakah dengan menggunakan unta (di padang pasir), kapal (di laut), atau dengan menggunakan bakul-bakul berjalan melintasi hutan belantara. Mereka menganut satu agama: Islam. Orang-orang Portugis cemburu, iri, dengan kejayaan para pedagang Islam. Kain, lada hitam, minyak wangi, besi, emas, tembikar, gading dan barang-barang mewah lainnya, yang sangat diingini oleh orang-orang Portugis, semuanya dikuasai oleh para pedagang Islam. Malangnya, orang-orang portugis tak memiliki barang-barang mewah untuk dipertukarkan dengan barang-barang mewah yang diperdagangkan oleh para pedagang Islam. Beberapa hari di sana, dua orang ternama datang menemui mereka. Mereka adalah para pembesar di tempat itu, dan mereka tak menghargai apapun yang diberikan oleh para pendatang tersebut. Mereka tidak sedikit pun kagum melihat kapal pendatang karena mereka memiliki kapal (dan pernah melihat kapal) yang lebih besar dan lebih banyak kelengkapannya. Setelah mendapat perbekalan yang cukup, maka mereka berlayar kembali menuju India.

7. Tanggal 20 Mei, 1498, merapat ke India, negeri rempah-rempah dan lada hitam. Orang-orang Portugis tak punya perbekalan yang cukup untuk berlayar jauh. Bagaimana sambutan orang-orang India terhadap orang-orang Portugis? Hadiah-hadiah dari Vasco De Gama tidak dihargai. Hadiah seperti madu, manisan dan lain-lainnya ditertawakan oleh orang-orang India. Hanya satu yang digemari oleh Maharaja India, yakni baju kulit yang dikenakan oleh anak-anak kapal Portugis. Tapi, bagaimana pun juga, orang-orang Portugis bernasib baik, berhasil juga membawa pulang lada hitam dan jenis rempah-rempah lainnya. 29 Mei, 1498 mereka pulang. Juli, 1499, akhirnya mereka berhasil kembali ke tanah airnya.

8. Pelayaran mereka memberikan keuntungan 60 kali lipat—melebih perdagangan dengan Venesia. Raja begitu gembira atas keberhasilan Vasco da Gama, tapi Vasco merasa khawatir. Mereka bisa saja mendapatkan keuntungan besar, tapi barang dagangan dari Portugis tidak menarik minat orang-orang yang didatangi karena mereka memiliki barang-barang yang lebih bagus. Raja marah. Sekali lagi kapal-kapal mereka meninggalkan Lisabon, dan kali ini dilengkapi dengan alat-alat perang.

9. Suatu dunia baru ditemukan dan perampasan pun dimulai. Sekali lagi kapal-kapal Portugis tiba di pantai timur Afrika. Kali ini lengkap dengan meriam, senapan dan tentara. Kapal berlabuh di luar pelabuhan perdagangan utama. Tentara mendarat. Mereka mengepung pelabuhan. Siapa pun yang menentang, dibunuh. Tentara merangsek ke rumah-rumah dan istana serta mengambil barang apapun yang berharga. Penduduk di kota sekitar pelabuhan berlarian menyelamatkan nyawa mereka masing-masing. Kapal Portugis dimuati penuh dengan emas dan gading, Setelah tidak ada lagi yang bisa dirampas, pelabuhan pun dibakar. Tak lama kemudian, hancurlah pelabuhan perdagangan yang pernah ada di sepanjang timur Afrika. Kekayaan mengalir ke Eropa. Akhirnya Portugis menguasai perdagangan antara Afrika, Cina, India, dan kepulauan nusantara Melayu (nusantara). Spanyol menguasai perdagangan Lautan Atlantik dan Amerika (Selatan). Keadaan yang sama juga terjadi di Amerika. Tentara, meriam, senapan, dan pembunuhan. Portugis dan Spanyol menaklukkan tanah jajahan yangluas di Amerika (Selatan), termasuk Inca dan Aztec. Mereka merampas tanah penduduk asli. Penduduk setempat tak dapat melawan penyerang dari Eropa, yang menggunakan meriam dan kuda. Mereka dipaksa menjadi hamba abdi, budak. Mereka bekerja di tambang-tambang emas dan tembaga atau di ladang-ladang tembakau. Mereka bekerja keras menyangkul tanah untuk tuan mereka yang baru ini. Siapa yang tidak bekerja, segera dipukuli. Banyak sekali penduduk pribumi yang mati dalam keadaan yang menyengsarakan tersebut. Barang-barang yang dihasilkan oleh penduduk setempat tersebut diangkut dengan kapal ke Eropa. Di sana barang-barang tersebut dijual.

 

Sumber:

1. Historie Bogan;
2. The Hostory Books;
3. La Historia Del Capitalismo;
4. Dalam Buku Sejarah Dunia Modern, INSAN (Institut Analisa Sosial), Kuala Lumpur, 1985.Kata Kunci:

Share

Majalah Ganesha ITB © 2014 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng and kurupuk.net.

Slider by webdesign