Curhat Seorang Demonstran

Pagi ini aku ikut KM ITB demonstrasi tolak kenaikan harga BBM di Gedung Sate. Secara jadwal sih harusnya sekarang aksi di Jakarta. Tapi karena katanya Sidang Paripurna diundur jadi Jum’at terpaksa BEM SI mundurin jadwal demo di Gedung DPR. Tapi tak masalah, yang penting tetap dapat pengalaman.

Berdasarkan jarkom, aku harus kumpul di monumen kubus jam setengah 8. Tapi entah mengapa jam setengah 8 lebih sedikit orang yang datang baru lima orang-an, itu aja banyak yang cabut dulu, entah cari makan atau beraktivitas lain.

Aku akhirnya harus menunggu dan menunggu. Aku ngobrol dan sarapan di kantin Salman dulu. Sekitar jam 9 kurang, empat belas orang berkumpul untuk di-briefing ama petinggi KM ITB. Setelah berdoa bersama, massa akhirnya diberangkatkan.

Massa bawa gerobak yang ditumpangi oleh seorang mahasiswa yang berperan sebagai SBY. Dua mahasiswa yang mendorong berperan sebagai rakyat. Massa lainnya berjalan dengan membawa spanduk penolakan dan juga selebaran pernyataan sikap KM ITB.

Di jalan, aku dan kawan-kawan demonstran lain hanya mengikuti aba-aba dari pemimpin demo yakni para sesepuh KM tingkat akhir dan yang akan diwisuda. Mereka kuanggap bak dewa biarpun kadang-kadang aku ragu dengan mereka. Seberapa yakin mereka faham dengan sikap KM ITB itu sendiri, aku nggak yakin mereka menjiwai dengan hati terdalam.

Saat di Perempatan Dago, orasi terpusat kembali dilakukan. Ada dua orang kawan yang berperan sebagai pengibar bendera merah putih dan KM ITB. Drama statis diperankan oleh tiga orang mahasiswa. Seorang bertindak sebagai SBY dan dua orang lainnya berperan sebagai rakyat miskin. Aku cuman diam saja saat itu. Dalam hati, aku berkata bahwa “udah sedikit massa yang dateng, kok aksinya gitu-gitu aja?, biasa banget. Kalo dibilang teatrikal, nggak juga. Masak teatrikal cuma diem-diem gitu ?. Kalo dibilang orasi bak Bung Karno yang Berapi-Berapi, suara megaphone dari radius 10 meter aja gak kedengaran. Trus yang mau diandalin apa ?. Aku bingung. Ini yang jadiin aku males ikutan demo lagi”.

Aku rasa demo tadi dilakukan tanpa persiapan yang matang. KM ITB belum bisa ngerangkul massa. Mbokyao bilang unit HATI yang sudah ngadain kajian mendalam tentang BBM. Emang solusi yang ditawarin beda, tapi kan satu kesepakatan ; Tolak Kenaikan Harga BBM. Kalo bisa gabung, aku yakin massa yang ikutan tambah dan demo pasti lebih powerful. “Demo tak sekedar berteriak-teriak dengan suara lantang, tapi juga pake jiwa”, bagiku itu.

Pasca orasi di Perempatan Dago, aku dan kawan-kawan demonstran dimobilisasi menuju Gedung Sate. Setelah sampai, wartawan menyerbu kami. Mereka mengambil gambar dan wawancara terutama pada orator dan pemeran SBY dan rakyat miskin. Suara KM ITB dah menyebar ke seantero negeri. Media sudah meliputnya. Biarpun massa KM ITB sedikit, tapi dah lumayan suaranya didengar oleh media. Prediksiku karena ITB menang nama sehingga media tanpa segan-segan meliput.

Orasi di Gedung Sate tidak berlangsung lama, prediksiku sih cuman seperempat jam. Lumayan lah. Tidak dapat massa banyak yang ikutan demo, wartawan dah meliput.

Di akhir keterikutan aku di demo ini aku bertanya-tanya ?. Apakah mahasiswa ITB yang kritis cuman enam belas ?. Bukannya saat forum massa, yang tolak kenaikan BBM dengan alasan dan penjelasan berapi-api banyak sekali?. Apa mereka cuma beretorika saja ?.

Aku masih bertanya-tanya. Apa sejauh ini KM ITB belum begitu bisa ngerangkul massa ?. Atau KM ITB sudah mencoba namun pasrah karena banyak massa unit dan himpunan menolak ?. Atau juga KM ITB sekarang ini masih dalam proses perangkulan dan pencerdasan yang sistematis kepada massa kampus ?. Ato malah KM ITB dah berfikir percuma kalo ajak massa himpunan dan unit ?.

Pertanyaan terakhir. Apa metode demo itu sudah tidak relevan dengan mahasiswa ITB saat ini ?. Atau mahasiswa ITB sekarang dah apatis ama politik dan lebih mentingin kuliah aja ?. Bingung aku.

Biarpun kondisi sekarang kayak begini, aku tetap memiliki harapan. Aku sangat yakin mahasiswa ITB kedepan akan memimpin bangsa ini. Aku nggak rela negara yang besar ini dipimpin oleh orang-orang lulusan universitas kelas dua. Bukannya sombong tapi ceritanya saat ini begitu. Saat Pak Habibie pimpin bangsa besar ini, perbedaannya begitu mencolok. Indonesia jauh lebih baik. Aku sangat menginginkan sekali adanya kesinambungan untuk duduk bareng menciptakan kesatuan ITB. Visi mahasiswa ITB yang satu. Kesatuan mahasiswa ITB untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

 

Uruqul Nadhif Dzakiy

Kata Kunci:

Share

Majalah Ganesha ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng and kurupuk.net.

Slider by webdesign