Sore ini, plaza widya menjadi saksi bisu pelantikan Anjar Dimara Sakti (GD’08) sebagai Presiden Kabinet KM ITB periode 2012/2013. Lembayung senja ini seakan merestui pengangkatan Anjar sebagai presiden dalam setahun kedepan. Tak lupa panji-panji lembaga Himpunan Mahasiswa Jurusan mewarnai jalanan di sekitar plaza widya hingga kolam indonesia tenggelam. Bahkan beberapa jaket fakultas yang menjadi ciri khas mahasiswa TPB ikut mewarnai pelantikan ini.
Dalam hiruk pikuk massa lembaga yang mewarnai sore ini, ada beberapa lembaga yang absen. Jika mencari-cari alasan, jelas segudang alasan bisa saja dikeluarkan sebagai pembenaran atas ketidakhadiran lembaga tersebut. Entah karena tidak sempat, ada kegiatan lain, atau bahkan memang absennya mereka sebagai sikap tegas terhadap kiprah Anjar sebagai presiden KM-ITB. Ah rasanya kehadiran lembaga terhadap pelantikan tadi bisa menjadi indikasi respek lembaga tersebut terhadap kehidupan KM-ITB itu sendiri.
Seremoni pun berjalan seakan tanpa hambatan. Lagu Indonesia Raya mulai berkumandang khidmat. Sialnya, dalam larut khusyu massa kampus yang menyanyikan lagu Indonesia Raya ada saja beberapa orang, yang ditengarai mahasiswa, berlarian kesana-kemari. Ya, memang saya tidak tahu seberapa penting lagu tersebut dalam isi kepalanya. Memang cerita itu terdengar cukup ironis.
Malam pun menjelang mengusir mentari. Tak dinyana lagu-lagu lirih mengalun menjelang penutupan seremoni ini. Rasanya suasana ini menggambarkan bahwa semangat mengisi kegiatan kemahasiswaan setahun kedepan tidak terlalu menggebu. Terlebih ada beberapa orang yang menyalakan sumber api, entah lilin atau korek. Hal tersebut membuat seremoni ini seakan sore berkabung.
Terlepas dari kisah-kisah unik dibalik sumpah Anjar sebagai presiden, rasanya semangat berkemahasiswaan dalam KM-ITB harus kita tingkatkan. Saya pun meyakini bahwasanya mahasiswa ITB memiliki ambisi untuk memajukan KM-ITB. Apalah gunanya nilai vektor yang besar jika saling meniadakan. Selamat berkarya!