Siapa yang tidak kenal dengan Alumni ITB, Alumni ITB dengan tingkat solidaritasnya yang tinggi merupakan suatu kekuatan tersendiri bagi perkembangan ITB. Ikatan yang harmonis antara Alumni dengan ITB dapat dilihat dari berbagai kegiatan-kegiatan yang seringkali dilakukan semisal seminar, kuliah umum, hibah fasilitas dan sebagainya. Bahkan Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) sudah mencapai usianya yang ke 42 pada tahun ini. Meski sudah menjadi rahasia umum bahwa solidaritas angkatan lebih kuat dibandingkan dengan IA-ITB itu sendiri, seperti yang juga pernah ditulis oleh seorang dosen ITB – Rinaldi Munir – pada laman Blog pribadinya.
Selain mengadakan reuni angkatan, dalam beberapa tahun belakangan menghibahkan fasilitas penunjang menjadi tren tersendiri. Sebut saja fasilitas seperti water tap, Sepeda Kampus, hingga yang terkini tempat-tempat membaca yang tersebar di kampus. Memang menghibahkan dana dalam bentuk fasilitas jelas akan lebih ‘awet’ dan ‘terlihat’, namun sayangnya itu juga menuntunnya pada kebutuhan dana untuk biaya perawatan fasilitas itu sendiri. Menurut hemat penulis, sebagai Alumni ITB pastinya mereka sudah mempertimbangkan masak-masak akan hal itu. Sayangnya, fakta di lapangan berkata lain. Fasilitas-fasilitas sumbangan alumni kini seakan menjadi aksesoris kampus yang memberikan citra tanpa nilai fungsi dari benda itu sendiri.
Hingga tahun 2010, ITB merupakan satu-satunya universitas yang memiliki fasilitas water tap. Terdapat 70 buah water tap yang tersebar di berbagai titik strategis. Jumlah 70 water tap disesuaikan dengan angkatan penyumbangnya yakni alumni ITB angkatan 70, seperti yang dilansir pada situs ITB ecocampus. Sejak diresmikan pada tahun 2005 water tap ini hanya memberikan secuil manfaat. Dari 70 water tap yang tersebar, jumlah water tap yang mandul pun cukup banyak. Penulis sendiri hanya merasakan nikmatnya air dari water tap sumbangan ini pada tahun 2009-2010 saja.
Manajemen yang buruk jelas menjadi pangkal persoalan dari impotensi fasilitas kampus ini. Situs ITB ecocampus memuat bahwa angkatan 70 pernah menyewa jasa pihak ketiga untuk mengelolanya. Namun, pengolahan air dengan sistem RO ini ternyata menimbulkan permasalahan baru. Pengolahan agak tersendat-sendat karena jumlah filter kurang. Selain itu, sempat terjadi kerusakan pada pompa yang digunakan. Ketika awal konstruksi, karena pembelian suku cadang tidak diawasi dengan ketat pompa yang dibeli tidak sesuai dengan desain awal. Namun, pompa tetap digunakan meski pada akhirnya terjadi penurunan kapasitas pompa. Penurunan kapasitas pompa ini menyebabkan debit air turun. Sialnya, sejak tahun 2009 fasilitas ini diambil alih oleh pihak ITB. Maka lengkap lah sudah penderitaan 70 water tap ini. Bahkan seorang mahasiswa ITB memiliki pendapat unik perihal water tap ini. “Gw ngeliat water tap di ITB udah kayak ngeliat nisan aja.” Ungkapnya di salah satu forum dunia maya.
Rekan seperjuangan water tap, sepeda kampus, juga memiliki nasib tak jauh berbeda. Sepeda yang diresmikan pada 12 Juni 2010 silam seringkali hilang dari shelter yang tersedia. kalaupun ada, sepeda-sepeda itu dalam kondisi terkunci rantai besi. Dari ANTARA diberitakan bahwa pengelolaan sepeda kampus ini dipegang oleh unit sepeda ITB, Ganesha Bicycler ITB (GB-ITB). Sayangnya sistem penggunaan fasilitas sumbangan alumni ITB angkatan 84 ini masih lemah. Lebih jauhnya tak sedikit kondisi sepeda yang bermasalah seperti rantai yang putus, ban kempes, stang miring dan sebagainya.
Masih dari ANTARA, diberitakan bahwa sistem penggunaan sepeda ini masih diserahkan kepada mahasiswa sepenuhnya. “Selama ini kan kami sistemnya ya kepercayaan pada mahasiswa, tapi ya karena itu, ada aja mahasiswa yang lupa mengembalikan dan tercecer,” ungkap Banitama Supartha selaku perwakilan GB-ITB kepada ANTARA. Lemahnya sistem penggunaan fasilitas tersebut mengakibatkan serentetan permasalahan lainnya. Banyak yang dari mahasiswa ITB yang gemar menculik sepeda ini. Sepeda ini sering ‘diamankan’ mahasiswa ke sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan atau sembarang tempat, bukan pada shelter sepeda seperti seharusnya. Bahkan tak jarang satuan pengamanan (satpam) ITB terpaksa melakukan penyisiran untuk mencari sepeda-sepeda yang diculik para mahasiswa.
Tak cukup dua fasilitas itu saja, fasilitas tempat bacaan umum di kampus mulai berada pada kondisi yang tidak sehat. Meski baru beberapa bulan diluncurkan, kekosongan bahan bacaan di fasilitas itu dapat dengan mudah kita temukan. Tempat bacaan umum yang seharusnya memuat koran dan majalah itu kini nampak seperti tempat menjemur handuk. Sepengamatan penulis, fasilitas sumbangan alumni ITB angkatan 77 itu terdapat di empat titik yakni, atm gallery, basement CC. Barat, TVST dan Sekretariat Kabinet KM-ITB.
Tanggung Jawab Bersama
Dari ketiga fasilitas tersebut jelas terlihat masih minimnya tanggung jawab dan rasa kepemilikan atas fasilitas umum tersebut. Para alumni yang telah memberikan hadiahnya pada kampus ini seyogyanya turut memikirkan perawatannya. Meski menurut penulis hal itu jelas sudah dilakukan para pemberi hadiah ini, namun dapat kita lihat bersama pada tataran eksekusi masih nol. Jangan sampai niatan hibah fasilias kampus ini hanya sebagai simbol peningkatan citra saja.
Sama halnya dengan tanggung jawab mahasiswa ITB sebagai pengguna fasilitas kampus. Kebodohan mahasiswa ITB ini sering terlihat dari ketidakmampuan membedakan fasilitas publik dengan fasilitas privat. Seperti yang sudah disampaikan tadi, tak sedikit jumlah penculikan sepeda yang dilakukan oleh mahasiswa ITB ini. Untuk kasus ini saya jadi khawatir kalau-kalau para mahasiswa yang tengah menjalani studi di ITB ini menjadi pejabat publik nantinya. Jangan heran kalau fasilitas pemerintahan akan disalahgunakan kelak dan korupsi pun menjadi budaya.
Bagi pihak ITB sendiri, fasilitas-fasilitas semacam ini harus diawasi secara jelas pelaksanaan teknisnya. Wacana menuju World Class University hanyalah utopis belaka kalau pada hal-hal remeh semacam ini saja ITB tidak dapat menanganinya. Jika fasilitas umum semacam ini tidak mampu dirawat dengan baik oleh pengelola, lebih baik hilangkan saja.
Penekanan tanggung jawab kepada pengelola fasilitas jelas harus dilakukan. Jangan sampai fasilitas umum kampus ini menjadi seonggok barang tak berguna. Lebih tepatnya aksesoris yang memperindah tampilan ITB tanpa nilai fungsi benda di dalamnya. Jika kesadaran akan tanggung jawab perawatan fasilitas umum hanya dimiliki oleh beberapa pihak saja maka jelas akan percuma karena ada pihak lainnya yang tak mendukung, dengan kata lain menjatuhkan. Jangan sampai niat baik para alumni ini menjadi tersia-siakan karena nihilnya tanggung jawab. Kita tentunya tidak ingin fasilitas-fasilitas ini menjadi sampah yang tiada guna. Akhir kata, mari kita bersama bertanggungjawab atas fasilitas kampus semacam ini. (Rifqi)Kata Kunci:

