Aktivis Koar-Koar Saat Forsil Doang

Malam ini saya mengikuti kuliah tarawih disambung dengan diskusi sekitar satu setengah jam dengan mendikbud RI, Muh. Nuh. Beliau datang ke masjid Salman ITB bersama rombongan termasuk dirjen dikti RI, Joko Santoso. Saya yakin program ini bukanlah program safari Ramadhan, namun undangan resmi dari YPM Salman ITB.

Lumrah saat khutbah tarawih tidak ada sesi tanya jawab. Namun saat sesi diskusi pasca tarawih dibukalan dialog interaktif antara Pak Menteri dengan jamaah Salman yang didominasi mahasiswa ITB. Dua sesi pertanyaan dibuka, sesi pertama tiga slot dan sesi kedua empat slot. Pertanyaan sesi pertama datar. Tidaklah mensoroti kebijakan pemerintah yang beberapa minggu lalu ramai yaitu kasus RUU PT. Sedangkan pertanyaan termin kedua terdapat beberapa penanya yang menanyakan hal esensial dari kebijakan pemerintah tersebut meliputi pemerataan pendidikan, RUU PT, sertifikasi guru, dan sistem masuk Perguruan Tinggi. Semua penanya saya lihat bukanlah mereka yang notabene pencari fakta dan meminta pertimbangan pemerintah akan pengesahan RUU PT. Beberapa minggu lalu KM ITB menggelar diskusi panjang mengenai hal ini sampai mengadakan Pers Conference dan Aksi keluar kampus. Inti dari gerakan mereka adalah “Tolak RUU PT !”.

RUU PT ternyata disahkan, media ramai membahas hal ini. KM ITB dan beberapa BEM universitas lain mengajukan judisial review ke Mahkamah Konstitusi. Pasca itu, saya pribadi tidak mendengar kembali gerakan dari KM ITB. Sampai momen yang sangat berharga tadi (bertemu dengan Mendikbud) tidak ada seorang vokal dari Kabinet KM ITB yang mengangkat tangan apalagi mendesak Mendikbud dan Dirjen Dikti untuk berbicara empat mata dengan mereka. Apakah dengan datang ke MK itu sudah selesai permasalahan atau seperti apa. Kita yang notabene mahasiswa biasa tidak tau menahu tentang keputusan MK seperti apa.

Mendengar pernyataan Menteri tadi bahwa RUU PT itu sosialis banget, no kapitalis. Saya kecewa momen tadi tidak menjadi momen berharga buat kabinet KM ITB untuk mengklarifikasi atas pendapat pemerintah tersebut. Saya berkesimpulan sederhana bahwa para punggawa kabinet KM ITB setengah hati mencari tahu permasalah krusial sampai detail. Kemaren, saat kasus RUU PT diangkat publik, kata-katanya punggawa KM ITB tak henti-hentinya audiensi dengan anggota DPR. Sekarang, orang nomer satu di kemendikbud datang ke ITB, tidak ada impresi yang sepadan dengan anggota DPR, padahal orang-orang di kemendikbud inilah yang mengajukan RUU ke DPR. Kalau dipikir-pikir seberapa capek datang ke salman dan wawancara ama beliau dari pada harus bolak-balik Jakarta. Katanya ini masalah krusial yang tidak hanya temporer tapi berlangsung beberapa tahun kedepan juga. Intinya masalah pendidikan harus clear.

Akhirnya saya kembali menyimpulkan bahwa kajian kemahasiswaan kita sampai saat ini hanya sampai pada keraknya. Kita terlalu terbawa dengan media populer. Kita sebetulnya telah kesetir dengan media yang ada akibatnya kajian kita hanyalah sebatas formalitas. Ya, hanyalah formalitas yang hanya sekedar program kerja namun minim effort untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Ya, mungkin karena para punggawanya tidak tahu masyarakat kali ? Jadi cuman tau teorinya dan logikanya saja ? Hehe

Uruqul Nadhif Dzakiy

Share

  • kooky

    kenapa sampean tidak memulai pertempuran?

    • uruqul

      aku n gingetin bagi yg ngritik pedas pemerintah ko pas pemerintah dateng ke ITB malah nggak disamperin tuh. Pas kasus lagi booming di tipi belain tuh balik Jakarta Bandung, pas tipi g nyorot lagi tp masalah belum kelar ya usaha tuk itu pun reda

Majalah Ganesha ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng and kurupuk.net.

Slider by webdesign